Thursday, October 11, 2007

Curug Cilember - Bogor




Wana Wisata Curug Cilember merupakan panorama bukit dgn hamparan pinus merkusi dimana terdpt sumber mata air dan air terjun. Lokasinya tak jauh dari Jakarta; berada disebelah kiri jalan jalur Ciawi – Puncak, tepatnya di Cisarua ± 15 Km dari pintu tol Gadog (Jagorawi). Berada di kawasan hutan lindung Bogor - Puncak - Cianjur (Bopunjur) di ketinggian ± 800 mdpl.

Utk mencapai Curug Cilember dari pinggir jalan raya Ciawi-Puncak, tidak terlihat ada plang jalan yg cukup jelas, jadi harus rajin bertanya ke stan ojek dimulut jalan. Jalan masuknya cukup sempit, melewati perumahan yg cukup rapat, berbelok2. Kalau anda membawa kendaraan yg cukup besar, seolah2 kita hampir menabrak atap rumah orang.

Sepanjang jalan, hati terus bertanya2, apa benar ada air terjun di belakang rumah. Setelah melalui jalan aspal mulus berliku2, sesekali terpaksa mundur maju saat berpapasan dgn kendaraan lawan arah, pada tanjakan terakhir yg cukup tinggi, di sebuah bukit yg masih dijaga Perhutani, dibelakang sekumpulan villa2 dgn halamannya yg luas, terdapatlah sebuah bukit yg berbeda dari sekitarnya. Bukit tsb. terlihat mencolok diantara bukit2 lain yg penuh dgn ladang2 penduduk. Menemukan kehijauan disini, seperti menemukan oase ditengah gurun yg terdiri kampung, vila dan kebun jagung. Sepintas hanya satu punggungan bukit saja yg masih terlihat hijau dgn tanaman pinus berdiameter cukup besar. Bukit itu bernama Hambalang.

Tetapi, setelah memasuki gerbangnya, pemandangan berubah drastis. Sekarang kita memasuki lokasinya yg asri dan tenang. Gemericik air terdengar dari sebuah pancuran bambu yg mengangguk2 krn kosong lalu teris air dan seterusnya. Air jernih mengalir disela2 batuan dan tanam2an yg berasal dari sebuah mata air diatas; sebuah tempat yg kita akan tuju. Jembatan gantung, taman kupu2, taman air, taman anggrek, menambahkan suasana rileks yg biasanya kita dapatkan saat frekwensi kita beresonansi dgn alam; sebuah harmoni yg kita sedang cari.

Plang nama didepan pintu gerbang bertuliskan kerjasama perhutani dgn desa Jogjogan. Mungkin ini adalah salah satu contoh baik, bahwa desa ikut menikmati kehadiran wisatawan dgn ikut mengelola perparkiran, kebersihan, keamanan dan bentuk pengelolaan lain. Mereka juga ikut menanam modal, warung, villa, toilet dan persewaan tenda beserta perlengkapannya.

Tempat ini strategis, lengkap dan cukup asri utk acara reuni keluarga besar, liburan bersama2 anak2, maupun liburan teman2 sekolah. Melakukan kegiatan di alam dan bermalam disini cukup menyenangkan. Tak usah khawatir, disini terdapat beberapa villa mungil yg suasanya menyatu dgn alam, musholla, toilet dan kamar mandi bersih. Jadi kalau kita tidak dpt sepenuhnya meninggalkan cara hidup kota atau kalau kita membawa anggota2 keluarga senior atau balita, rasanya tempat ini cukup memadai jika dibandingkan dgn Taman Safari umpamanya, yg tak jauh dari sana, yg juga menawarkan hal serupa, tetapi lebih komersial.

Wanawisata Curug Cilember adalah tempat yg baik buat anak2 utk mulai berkenalan dgn alam, belajar hidup mandiri, belajar memasak sambil bermain, mengagumi keindahan. Dan yg paling dianggap penting buat sebagian orang kota, adalah lokasinya yg tak lebih satu jam berkendaraan dari Jakarta.

Anda juga tak perlu membawa perlengkapan apa2, krn tenda dan alat2 masak pun bisa disewa. Keamanan yg biasanya selalu dikhawatirkan utk sebuah camping keluarga, tak perlu ada, krn lokasi camping ground dijaga 24 jam oleh hansip dari penduduk kampung sekitar yg memahami arti pentingnya keamanan kenyamanan anda disitu.

Tujuan utama ke Curug Cilember adalah mengunjungi tujuh Curug yg bertingkat2. Umumnya wisatawan keluarga menikmati curug ke tujuh; sebuah curug terdekat, yg hanya beberapa ratus meter dari pintu gerbang. Sedangkan wisatawan minat khusus (petualangan) bisa terus menuju ke enam curug lainnya diatas

Wednesday, October 10, 2007

Maafkan dan Berkasihsayanglah

Suatu ketika Rasululah sedang memimpin shalat jama'ah. Tidak seperti biasa, kali ini sujudnya panjang sekali. Para sahabat yang berada di belakangnya mulai resah, terpikir oleh mereka pasti ada sesuatu yang menimpa pada Rasulullah. Ketika shalat usia, mereka bertanya tentang hal tersebut. Nabi menjelaskan bahwa ketika ia sedang bersujud, tiba-tiba Hasan dan Husain cucunya naik ke atas punggungnya. Ia tak segera berdiri sampai sang cucu turun sendiri. Ia khawatir bila ia paksakan berdiri sang cucu akan terjatuh ke lantai.

Di lain waktu Rasulullah sedang berkhutbah. Di tengah khutbahnya tiba-tiba sang cucu berlari menuju ke mimbar. Rasulullah turun dari mimbarnya dan menyambut kedatangan cucunya sembari memberi isyarat agar sang cucu kembali tenang. Tak lama kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya.

Rasulullah adalah manusia yang dipilih Allah dengan sifat yang penuh dengan kasih sayang. Sifat kasihnya tidak terbatas hanya untuk anggota keluarganya, tapi melingkupi seluruh manusia.

Suatu ketika ada seorang ibu sedang menggendong anaknya. Tiba-tiba Rasulullah mendekat dan ingin memangkunya. Maka beralihlah sang anak dari pangkuan ibu kepada pangkuan Rasulullah. Tak disangka-sangka sang anak itu kencing hingga membasahi jubah Rasulullah. Melihat kejadian itu sang ibu langsung merenggut sang anak dari tangan Rasulullah. Sambil mengumpat, sang ibu tak lupa memukul pantat sang anak. Rasulullah mencegahnya, tapi sang ibu tetap memaksa. Atas kejadian tersebut Rasulullah mengingatkan bahwa kotornya jubah bisa dicuci di rumah, tapi kemarahan ibu tetap akan membekas dalam hati sang anak sampai ia menginjak dewasa, dapatkan ibu membersihkannya?

Begitulah sosok manusia yang bernama Muhammad. Beliau tak ingin seorangpun yang terluka hatinya, kecewa, sedih, marah, dan benci kepada sesamanya. Beliau ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain, dengan sekuat daya dan kemampuannya.

Menyayangi keluarga, istri, anak atau cucu, itu hal biasa. Binatang buas sekalipun memberikan kasih sayangnya kepada anggota keluarganya. Macan tetap menyusui anaknya, demikian pula binatang buas lainnya. Untuk itu Rasulullah bersabda:

Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang. Para sahabat berkata: Kami sudah saling kasih sayang. Nabi bersabda: "Bahwa sayang yang dimaksud di sini bukan saja sayang sekadar kepada salah seorang temannya, dalam ruang lingkup terbatas, tetapi sayang (yang dimaksud) adalah sayang yang bersifat menyeluruh. (HR. Ath-Thabrani)

Karenanya ia mengajari manusia untuk bersikap lembut dan kasih sayang kepada semua yang melata di muka bumi. Beliau bersabda:

Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya kamu disayang oleh orang yang di langit (yakni para malaikat). (HR. Thabrani)

Bukankah hidup kita di dunia ini atas kasih sayang Allah? Tanpa kasih sayang-Nya tak mungkin kita bisa hidup dan menikmati kehidupan seperti saat ini. Udara disiapkan secara gratis, tanpa ada tagihan rekening. Air disediakn melimpah untuk siapa saja. Matahari, bulan, bintang, dan bumi yang kita injak ini adalah berkat rahmat Allah swt. Sedikit saja rahmat Allah dicabut, hidup kita sangat sengsara. Saluran nafas kita diberi sumbatan sedikit saja sudah kalang kabut hidup kita. Belum lagi jika denyut jantung kita dihentikan sejenak, maka matilah kita.

Suatu ketika 'Aisyah menceritakan kepada Rasulullah saw sebuah peristiwa yang baru saja dilihatnya. Ia melihat seorang ibu dengan dua orang anaknya yang sedang kelaparan. Dalam keadaan seperti itu seseorang memberikan tiga potong roti. Dua diberikan kepada anaknya sedangkan yang sepotong disisakan untuk dirinya. Karena kelaparan sang anak langsung melahap dan menghabiskannya. Tak tega terhadap keinginan kedua anaknya tersebut, sepotong roti bagiannya dibagi dua untuk mereka. Sang ibu rela kelaparan demi anak-anaknya.

Setelah mendengar cerita tersebut, beliau bersabda: Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu yang baru anda ceritakan tadi. Sang ibu yang dikisahkan oleh 'Aisyah itu benar-benar telah menghayati nilai kasih sayang. Ia telah meresapi nilai kasih sayang Tuhan, yang dimplementasikan kepada anak-anaknya. Namun demikian, kasih sayang Allah jauh melebihi demonstrasi kasih sayang ibu tersebut. Atas kasih sayang-Nya kita hidup, dengan kasih sayang-Nya pula kita dapat menikmati kehidupan dunia, dan insya-Allah akan menikmati pula kehidupan akherat, suatu kehidupan yang sesungguhnya. Rasulullah sayang membenci orang-orang yang bersifat kasar, tak berperasaan. Beliau bersabda:

Bahwasanya sejauh-jauh manusia dengan Allah ialah orang-orang yang keras hatinya. (HR. At-Tirmidzi)

Sebagai Rasul yang membawa ajaran baru, beliau tentu saja menghadapi tantangan dan permusuhan yang sangat berat. Caki maki, hinaan, teror mental dan fisik, serta kejaran musuh, serta ancaman pembunuhan selalu menyertai kehidupannya. Akan tetapi dalam menghadapi mereka, Rasululah justru diperintahkan untuk tetap bersikap lemah lembut. Beliau berpantang untuk bersikap keras. Allah berfirman:

"Maka disebabkan rahmat Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka." (QS. Ali Imraan: 159)

Itulah sebanya, ketika beliau berniat hijrah ke Thaif, disambut hujan batu dan pengusiran yang sangat kejam, beliau tetap bersikap lemah lembut. Tak sedikitpun kemarahan nampak pada wajahnya. Ketika Malaikat Jibril datang menawarkan bantuan untuk menghancurkan bani Thaif dengan batu-batu gunung, beliau justru menjawab:

"Allahummahdii qaumii fainnahum laa ya'lamuun, Ya Allah, berilah kaumku petunjuk, sebab mereka belum mengerti." Bani Thaif ketika itu belumlah menjadi kaumnya, bahkan mereka saat itu adalah musuhnya. Akan tetapi dalam do'anya, beliau menyebut mereka sebagai kaumnya. Itulah bentuk kasih sayang Rasulullah yang besar kepada ummat manusia.

Sesungguhnya sifat kasih sayang itu ada dalam jiwa manusia. Besar kecilnya tergantung kepada setiap individu untuk menumbuhkan dan merawatnya. Ada orang-orang yang berhasil membesarkannya, tapi banyak yang gagal sehingga kasih sayangnya tertutupi oleh rasa benci, sombong, dan ambisinya Sebagaimana sifat-sifat yang lain, sifat kasih sayang hendaknya juga dilatih.

Pertama, dengan mengasah kepekaan sosial. Tumbuhkan rasa simpati dan empati kepada sesama. Kedua, ulurkan tangan, berikanlah bantuan kepada orang-orang yang lemah dan memerlukan bantuan. Ketiga, hiasi penampilan dengan seyum yang manis, perangai yang halus, dan perilaku yang menyenangkan. Keempat, jaga lisan dari kata-kata kasar, kotor, dan menyakitkan perasaan. Lebih baik diam jika tidak bisa berkata manis dan menyenangkan. Dengan empat langkah di atas, insya-Allah kita tampil menawan, penuh pesona dan wibawa. Semoga

Mengelola Fitrah Perbedaan

Menurut Ibnu Qayyim, lebih seratus masalah yang diperselisihkan dua sahabat ini. Namun Khalifah Umar tak ragu menjadikan Ibn Mas'ud tangan kanannya.

Ikhtilaf di tengah ummat tidak hanya terjadi saat ini. Jauh sebelum ini, bahkan masih pada masa Nabi Salallaahu 'alaihi wa salam perbedaan pendapat itu sudah terjadi. Kadang-kadang Nabi membenarkan salah satu di antara sahabat yang sedang berselisih. Dalam hal-hal tertentu perbedaan itu dibiarkan saja.

Antara Abu bakar dan Umar bin Khaththab sering terjadi selisih pendapat, baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat. Di masa Rasulullah masih hidup, maka beliaulah yang selalu menjadi penengahnya. Kata putus atas sengketa pendapat itu selalu diambil oleh Rasulullah sehingga keduanya ikhlas menerima keputusan tersebut. Sesekali pendapat Abu Bakar yang dibenarkan Nabi, pada kali lain justru pendapat Umar yang dipakai. Siapapun yang "dimenangkan" tak merasa besar hati, sementara yang "dikalahkan" tak harus merasa rendah diri.

Ketika Rasulullah wafat, pun sudah ada ketegangan akibat beda pendapat antar para sahabat. Mereka berselisih paham mengenai tempat pemakaman Rasulullah Saw. Yang lebih besar lagi, mereka pun berselisih pendapat mengenai suksesi kepemimpinan sesudah Rasulullah Saw.

Kejadian di Bani Tsaqifah yang begitu tegang, hampir-hampir meruntuhkan persatuan mereka. Masing-masing pihak merasa sebagai pemimpin yang berhak memberi keputusan. Namun karena mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dikader langsung oleh Nabiyullah Muhammad Saw, mereka mendasarkan perbedaan pendapat tersebut dari niat yang ikhlas, maka mereka pun berhasil menemukan satu kesepakatan. Akhirnya Umar bin Al Khattab pun membai'at Abu Bakar dan dikiuti para sahabat yang lain.

Perbedaan pendapat besar antara Umar dengan Abu Bakar pun berulang dalam berbagai kejadian. Dalam menyikapi suku-suku yang murtad hingga yang mengaku sebagai nabi palsu seperti Musailamah Al Kadzadzab, juga ketika menyikapi para tawanan wanita dari kaum yang kalah perang, masalah pembagian tanah hasil rampasan perang, hingga soal suksesi kepemimpinan. Namun perbedaan-perbedaan pendapat yang cukup runcing itu sama sekali tidak menimbulkan perselisihan di antara keduanya.

Begitu juga yang terjadi antara Umar Ibn Khattab dengan Abdullah Ibn Mas'ud, dua orang sahabat yang sama-sama tak diragukan kedalaman ilmu dan kecerdasannya kehebatannya oleh ummat. Keduanya berselisih pendapat dalam banyak hal. Menurut catatan yang dibuat oleh Ibnu Qayyim, masalah-masalah yang mereka perselisihkan ada lebih dari seratus buah. Tetapi sebegitu besar perselisihan mereka, tetap saja keduanya bisa bersatu dalam berbagai kecocokan pula. Sehingga Umar pun tak ragu menunjuk Abdullah bin Mas'ud sebagai pembantu dekatnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Silang pendapat ini bisa terjadi karena banyak sebab. Mungkin karena latar belakang keluarga, pergaulan, wawasan, tingkat pendidikan, watak dan sikap, serta masih banyak lagi. Allah mentaqdirkan manusia tidak ada satupun yang sama. Adalah wajar jika di antara manusia terjadi perbedaan pandangan, perbedaan pendapat dan sikap atas suatu masalah. Dalam satu soal mungkin ada yang sama pendapatnya, tapi dalam banyak soal yang lain mungkin berbeda. Yang demikian itu adalah sikap dasar manusia.

Antara suami istri tak bisa dipaksakan untuk sama pendapatnya. Dalam masalah selera saja sudah terjadi perbedaan, apalagi dalam hal pendapat. Perbedaan pendapat antara suami dan istri baru menjadi persoalan jika keduanya tidak terdapat sikap saling menerima dan menyesuaikan. Perbedaannya bukan persoalan. Yang menjadi soal adalah bagaimana mengelola (managing) perbedaan itu.

Rasulullah Saw adalah sosok manejer yang sukses. Beliau tidak hanya berhasil memadukan perbedaan antar individu sahabatnya, tapi juga memadukan perbedaan suku, ras dan golongan di bawah kepemimpinan Islam. Beberapa kabilah yang awalnya berselisih, bahkan sering angkat senjata, di bawah kepemimpinannya, mereka dipersatukan sembari tetap memaksimalkan aktualisasi berbagai sumberdayanya.

Andaikata saat ini ada figur pemimpin yang diakui keberadaannya oleh semua kalangan dan golongan, yang mempunyai tingkat kemampuan manejerial yang tinggi, berbagai perbedaan di kalangan ummat Islam tak perlu menghasilkan permusuhan, apalagi sampai ke tingkat perang.

Beberapa poin yang bisa dilakukan untuk mencegah perselisihan yang buruk adalah sebagai berikut:

1. Tujuannya Mencari Kebenaran

Mereka yang melakukan berbagai perbuatan, menghasilkan berbagai pemikiran dan pendapat, dengan tujuan menari kebenaran, ia akan bisa ikhlas dalam menghadapi segala permasalahan, termasuk di antaranya jika harus berbeda pendapat. Jika kebenaran yang dijadikan tujuan, maka biar pun pendapat pribadi ternyata keliru, buat mereka tak jadi masalah. Ketika kebenaran ditemukan, tak peduli siapa yang membawakan, akan mereka terima dengan baik, walau harus menyalahkan pendapat sendiri.

Sebaliknya mereka yang hanya bertujuan mengunggulkan diri sendiri, cenderung enggan menerima pendapat orang lain. Jika di hati kecilnya sedikit muncul rasa kagum terhadap pendapat orang lain, cepat ditepisnya karena khawatir ummat akan berpaling darinya. Bahkan demi mempertahankan pendapatnya, ia rela memutarbalikkan fakta maupun ayat-ayat Allah, demi menjatuhkan pendapat orang lain.

2. Berbaik Sangka

Hanya mereka yang ikhlas sajalah yang mampu berbaik sangka kepada orang yang melawan pendapatnya. Mereka yang bisa berbaik sangka kepada 'lawannya', selanjutnya akan bisa menemukan hal-hal positif yang dimiliki orang lain. Tetapi jika penyakit buruk sangka telah menyerang, hampir bisa dipastikan perselisihan akan mudah berkobar, mengingat hampir semua perbuatan 'lawan' akan dinilai negatif. Bahkan perbuatan maupun pendapat yang baik pun bisa menjadi salah karena adanya buruk sangka ini.

3. Koreksi Diri

Manakala seseorang siap untuk mengeluarkan sebuah pendapat, berarti ia pun harus siap untuk mengoreksi diri. Koreksi diri ini sudah harus dipraktekkan begitu ada perbedaan pendapat yang ditemui di lapangan. Bahkan sudah harus dilakukan sebelum seseorang memulai berargumentasi mempertahankan pendapatnya. Setelah koreksi diri dilakukan, ada perbaikan kualitas diri, barulah kita bisa mempertahankan pendapat kita dengan argumentasi kuat.

4. Berlapang Dada

Ketika Rasulullah Saw wafat, Umar ibn Khattab RadhiAllaahu 'anhu marah, kemudian berdiri di atas podium dan sambil menghunus pedang mengancam akan membunuh siapa saja yang berani mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Orang banyak ketakutan melihat kemarahan Umar itu.

Kemudian datanglah Abu Bakar mendekatinya dan mengingatkan Umar, akan ayat-ayat Allah antara lain surat az-Zumar 30 yang menyebutkan bahwa siapapun akan mati, dan surat Ali Imraan 144 yang mengingatkan agar setelah wafat Rasulullah ummat tidak murtad karenanya.

Mendengar peringatan itu, luluhlah hati Umar, dan mengakui kebenaran pendapat Umar. Walaupun saat itu beliau berada di depan orang banyak, beliau tak merasa malu untuk mengakui kesalahannya. Dengan ikhlas Umar bisa berlapang dada tanpa harus merasa malu.

5. Jauhi Kegaduhan dan fitnah

Disebutkan oleh Al Ajiri dalam kitabnya "Akhlaq Al Ulama", apabila seorang ulama ditanya tentang suatu masalah yang ia tahu dapat menimbulkan kegaduhan dan fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin, maka dia harus bisa mengelak daripadanya kemudian berusaha mengarahkan si Penanya pada pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih baik, tanpa membuat si Penanya tersinggung atau kecewa.

Perselisihan akan semakin tajam, jika seorang pemimpin maupun ulama justru memancing reaksi umat dengan ucapan dan pendapatnya yang kontroversial. Hal-hal yang sudah sependapat tidak diangkat, justru yang rawan fitnah yang diperbincangkan. Jika umat sedang banyak mengalami konflik antar golongan, justru pendapat-pendapat kotroversial mengenai perbedaan golongan yang ia tonjolkan, dengan mengangkat kepentingan satu golongan dan mengabaikan golongan yang lain.

Atau pendapat yang kontroversial diluncurkan, demi menonjolkan namanya sebagai ulama, atau dilakukan untuk mengubah perhatian umat kepada kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan.

6. Tidak Berdebat

Perbedaan pendapat akan menjadi berbahaya jika diikuti oleh perdebatan, seperti dipesankan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Muslim bin Yassar, "Waspadalah kamu terhadap perdebatan, karena sesungguhnya ia merupakan saat ketidaktahuan orang yang berilmu dan karenanya setan mencari kesalahannya."

Rasulullah Saw pun bersabda pula, "Barangsiapa tidak mau berdebat karena mengaku salah, maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di sekitar surga. Barangsiapa tidak mau berdebat karena mengaku benar maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di tengah-tengah surga. Dan barangsiapa yang membaguskan akhlaq-akhlaqnya maka dia akan dibangunkan sebuah rumah di bagian atas surga." (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang menilainya sebagai hadits hasan. Sementara Al-Albani menganggapnya sebagai hadits shahih dalam 'Shahih At Targhib Wa At Tarhib') (Hamim Thohari)

Thursday, October 4, 2007